Jumat, 18 Juli 2014

MAKALAH KESEHATAN- KONSTIPASI PADA KEHAMILAN


DIET PADA IBU HAMIL DENGAN KONSTIPASI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem pencernaan di mana seorang manusia (atau mungkin juga pada hewan) mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada penderitanya. Konstipasi yang cukup hebat disebut juga dengan obstipasi. Dan obstipasi yang cukup parah dapat menyebabkan kanker usus yang berakibat fatal bagi penderitanya.
Secara patofisiologi, konstipasi umumnya terjadi karena kelainan pada transit dalam kolon atau pada fungsi anorektal sebagai akibat dari gangguan motilitas primer, penggunaan obat-obat tertentu atau berkaitan dengan sejumlah besar penyakit sistemik yang mempengaruhi traktus gastrointestinal.
Berdasarkan modifikasi dari Walker Smith dkk 1983, keadaan yang menyebabkan konstipasi antara lain :

1.Faktor mekanik : makanan yang dimakan rendah serat, kadar karbohidrat dan protein tinggi atau mendapat susu formula yang berlebihan. Obstruksi mekanis juga menimbulkan konstipasi misalnya Lesi stenotik anorektal.
2.Faktor neurogenik : Lesi medula spinalis, postganglionik, antikolinergik serta penyakit yang menimbulkan komplikasi terhadap kebiasaan buang air besar.
3.Faktor muskuler : Atoni dan defek matabolik, hipokalemia dan masukan cairan kurang.







1.2  Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi Pada Kesehatan Reproduksi dan untuk menambah pengetahuan mahasiswa tantang diet ibu hamil konstipasi.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konstipasi.
b. Untuk mengetahui penyebab konstipasai pada kehamilan.
c  Untuk mengetahui manifestasi klinis konstipasi.
d. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada konstipasi.
e. Untuk mengetahui terapi konstipasi.
f.  Untuk mengetahui polamakan pada ibu hamil dengan konstipasi.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Konstipasi
Konstipasi merupakan kelambatan perlintasan sisa makanan karena penumpukan feses yang keras dan kering disertai nyeri, distensi abdomen serta massa yang bisa diraba. Konstipasi merupakan suatu keluhan, bukan panyakit. Konstipasi sulit didefinisikan secara tegas karena sebagai suatu keluhan terdapat vairasi yang berlainan antara individu. Konstipasi sering diartikan sebagi kurangnya frekuensi buang air besar (BAB), biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil – kecil dan keras, serta kadang kala disertai kesulitan sampai rasa sakit saat BAB.Batasan dari konstipasi klinis yang sesungguhnya adalah ditemukannya sejumlah besar feses memenuhi ampula rektum pada colok dubur, dan atau timbunan feses pada kolon, rektum, atau keduanya yang tampak pada foto polos perut.
2.2     Patofisiologi
Dipengaruhi oleh diet, komposisi tinja, motilitas saluran cerna, dan obstruksi mekanis. Agar terjadi defekasi normal, anak harus merasakan tinja didalam rektum, kemudian diafragma dan otot abdomen akan berkontraksi. Spingter anus harus berelaksasi sebagai respon terhadap dorongan bolus tinja. Kelainan komponen-komponen yang mengatur defekasi normal akan menimbulkan konstipasi.
2.3   Manifestasi Klinis
Mula timbul dan lamanya konstipasi :
1.Konstipasi akut
Lamanya konstipasi : 1-4 minggu
Penyebab tersering : infeksi virus, obstruksi mekanis, dehidrasi, dan botulism infantil
2.Konstipasi kronik
Lama konstipasi : lebih dari 1 bulan
Penyebab : biasanya fungional, penyakit Hirschsprung
3.Pemeriksaan fisik
a.Bentuk feses
b.Pemeriksaan neurologis umum, dihubungkan dengan adanya inervasi sfingter ani atau striktur
c. Adakah distensi abdomen, prominen pada Hirschsprung atau konstipasi fungsional  yang lama
d.Pemeriksaan rektal dapat ditemukan lesi stenosis atau dugaan Hirschsprung berupa rektum yang kosong dan pendek dan bila jari-jari dikeluarkan keluar gush yang tipik


 dari cairan dan gas. Pada konstipasi fungsional dapat diraba massa feses dibawah sfingter ani. Perhatikan adanya fissura in-ano atau lesi perianal lain.

2.4    Penyebab Konstipasi Pada Kehamilan
1. Penekanan langsung pada usus oleh uterus dan janin
2. Berkurangya atau berubahnya asupan makanan dan cairan
3. Berkurangnya olah raga dan aktifitas fisik
4. Relaksasi otot polos usus yang ditimbulkan oleh hormon karena :
a. Peningkatan progesteron
b. Penurunan produksi motilin oleh dinding usus
c. Peningkatan enteroglukagon yang diproduksi oleh dinding usus
d.Impaksi fekal lebih cenderung terjadi pada kehamilan karena air dan garam diserap dengan jumlah yang lebih besar dalam kolon akibat :
1. Peningkatan waktu transit yang disebabkan oleh relaksasi otot polos usus
2. Kerja prolaktin
3.Aktifasi poros renin- angiotensin-aldosteron (glosarium) pada kehamilan dan peningkatan absorpsi garam serta air.

2.5     Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium : urin lengkap (terutama pada konstipasi kronik), dan pemeriksaan kmungkinan kearah penyakit spesifik seperti hipotiroid, dan hiperkalsemi.
2. Barium enema, pada dugaan adanya lesi obstruksi distal.
3. Manometri rektal, perlu untuk diagnosis Hirschsprung atau ultra short segment namun positif.
4.Biopsi, pada Hirschsprung dapat ditemukan tidak adanya sel-sel ganglion, aktifitas kolinesterase meningkat.

2.6     Terapi
1. Aktivitas dan olahraga teratur
2. Asupan cairan dan serat (25 – 30 gram/hari) yang cukup
3. Latihan usus besar; penderita dianjurkan mengadakan waktu secara teratur tiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya. Dianjurkan waktu ini adalah 5 – 10 menit setelah makan, sehingga dapat memanfaatkan refleks gastro-kolon untuk BAB. Diharapkan kebiasaan ini dapat menyebabkan penderita tanggap terhadap tanda – tanda dan rangsangan untuk BAB, dan tidak menahan atau menunda dorongan untuk BAB ini.
4.Jika modifikasi perilaku kurang berhasil, ditambahkan terapi farmakologi, dan biasanya dipakai obat – obatan golongan pencahar.



Ada 4 tipe golongan obat pencahar:
1. Memperbesar dan melunakan massa fesef anatara lain:
a. cereal
b. methy selulos
c. psilium
2.Melunakan dan melincinkan feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah penyerapan air.contohnya antara lain:
a. minyak kastor
b.golongan docusate
c.golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman untuk digunakan, misalnya pada     penderita gagal ginjal, antara lain:
·         Sorbitol
·         Lactulose
·         Glycerin
·         Merangsang peristaltik, sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang banyak dipakai. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bila dipakai untuk jangka panjang, dapat merusak pleksus mesenterikus dan berakibat dismotilitas kolon. Contohnya, Bisakodil dan Fenolptalein.
d.Dijumpai konstipasi kronis yang berat dan tidak dapat diatasi dengan cara – cara tersebut diatas, mungkin dibutuhkan tindakan pembedahan. Pada umumnya, bila tidak dijumpai sumbatan karena massa atau adanya volvulus, tidak dilakukan tindakan pembedahan.

2.7    Pola Makan
1.  Minum air yang cukup
        Air 8 gelas sehari. Karena anda membutuhkan cairan yang cukup bagi anda dan juga bayi. Cairan dibutuhkan untuk membangun sel darah merah dan sirkulasi, serta mengatur suhu tubuh. Cairan diperlukan tubuh untuk mengatasi konstipasi.
2.  Makan makanan berserat, buah-buahan dan sayuran
        Perbanyaklah makan makanan yang berserat tinggi, buah-buahan dan sayuran dapat membantu mengatasi konstipasi selama kehamilan.
3.   Kebutuhan energi dan protein
        Kondisi kehamilan memang akan menyebabkan kebutuhan energi dan protein yang bertambah. Namun hal tersebut bukan berarti mentolerir seorang bumil dapat makan sebanyak banyaknya dengan alasan “makan untuk dua orang”. Penambahan energi yang direkomendasikan hingga masa akhir kehamilan berdasarkan hasil penelitian terbaru di bidang maternal tak lainnya hanya sebesar 85.000 kcal. Kcal sebesar 85 ribu ini pun telah mencakup energi yang dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru,


        supply energi untuk jaringan baru, simpanan dalam bentuk lemak serta 10% energi yang hilang untuk metabolisme tubuh.
Dengan memperhitungkan masa kehamilan yang hanya 280 hari, rata rata penambahan kalori yang sebenarnya dibutuhkan oleh bumil hanya sebesar 300 kcal (85.000/280). Jumlah ekstra kalori tersebut tak lebih dari pengkonsumsian sebuah joghurt 250-300 gr dengan kadar lemak 3,5%!. Itupun sebenarnya ekstra kalori benar benar dibutuhkan khususnya sejak 5 bulan kehamilan. Penambahan kebutuhan protein sebenarnya hanya sebesar 0,9-1,0 gr per kg BB per hari. Meningkatkan konsumsi sumber protein sebanyak mungkin dengan alasan “hamil” juga sebenarnya bukan merupakan tindakan bijaksana. Jumlah protein yang ditambah sendiri biasanya hanya dianjurkan bila asupan energi juga cukup. Bila kondisi tersebut tidak dipenuhi, asam amino akan digunakan terlebih dahulu untuk produksi energi.
4.  Kebutuhan Mikronutrisi Asam Folat dan Vitamin A
Tambahan asupan mikronutrisi juga dibutuhkan selama masa kehamilan. Asam folat, VitaminA, Sodium, Kalsium, Magnesium, Besi, Yodium adalah beberapa mikronutrisi yang penting dicatat di masa ini.
Asam folat amat dibutuhkan saat terjadinya penambahan jumlah sel di masa awal kehamilan. Kekurangan asam folat biasanya akan dikaitkan dengan tingginya risiko si bayi mengalami “neural tube defects”, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan lahir prematur. Vitamin A dalam bentuk retinol berkontribusi terhadap kualitas pengelihatan si kecil. Pada daerah dengan masalah defisiensi vitamin A, transfer aktif vitamin A ke fetus akan tetap terjadi walau sang ibu memiliki serum-vitamin A yang rendah dalam darahnya. Bahkan di tri semester tiga kehamilan, fetus akan mulai menimbun vitamin A dalam organ hatinya. Kolostrum yang ibu produksi setelah melahirkan si kecil merupakan sumber makanan yang kaya akan vitamin A. Namun perlu diperhatikan bahwa seorang ibu yang mengalami defisiensi vitamin A tidak akan memiliki kuantitas transfer vitamin A yang cukup melalui plasenta dan ASI. Ibu menyusui yang berada di daerah endemik defisiensi vitamin A harus mendapatkan supplementasi vitamin A (200.000 IU) selama masa 8 minggu pertama setelah melahirkan. Supplementasi vitamin A ini tidak boleh dilakukan saat si ibu hamil mengingat adanya efek teratogenik yang diamati pada pemberian dosis tinggi vitamin A pada masa kehamilan.
Kebutuhan Sodium, Kalsium, Magnesium. Pengkonsumsian sodium dan kalsium dengan jumlah “sedang” juga diperlukan. Kalsium berperan penting dalam mekanisme pengaturan selama masa kehamilan dan menyusui. Ia juga akan meningkatkan absorbsi intestinal yang terjadi. Biasanya, setelah masa 6-12 bulan sang ibu melewati masa menyusui, depot kalsium di tubuhnya akan kembali terisi. Seorang bumil yang mengkonsumsi kalsium minimal 1000 mg Ca/hari akan kecil memiliki risiko terkena PIH (Pregnancy Induced Hypertension). Kekurangan magnesium biasanya dialami oleh 5-30% bumil dengan ditandai adanya keluhan kram (Nocturnal Systremma). Suplementasi

secara oral dari mikronutrisi ini terbukti akan mengurangi keluhan kram pada ibu yang sedang mengandung.

5. Kebutuhan Besi dan Iodium
Besi juga merupakan mikronutrisi yang amat diperlukan dalam masa kehamilan. Anemia saat kehamilan biasanya akan mempertinggi risiko terjadinya BBLR pada bayi, tingginya insidens kelahiran prematur dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian pada ibu saat melahirkan. Perlu diingat, anemia tidak selalu disebabkan karena kekurangan besi dalam darah. Kebanyakan wanita menderita anemia yang disebabkan oleh kombinasi kekurangan besi, asam folat, vitamin B12 dan vitamin A.
            Kekurangan iodium saat masa kehamilan sedapat mungkin harus dihindari. Seorang bumil idealnya harus memiliki persediaan iodium yang mencukupi agar transfer iodium ke fetus yang dikandungnya dapat mencukupi. Asupan iodium yang kurang dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan otak fetus, BBLR, kretin dan kongenital yang abnormal. Mengingat pentingnya fungsi iodium dalam masa ini, bumil dianjurkan untuk mengkonsumsi produk produk fortifikasi iodium seperti garam ber-iodium dan minyak ber-iodium.


2.8 Syarat menu yang baik
1. Pola menu seimbang
                        Pola menu seimbang di harapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi. Susunan m,akanan yang di hidangkan dapat memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan juga aktifitas yang di lakukan
2. aspek warna dan kombinasi
            Warna dan kombinasi makanan harus menarik sehingga dapat membangkitkan selera makan, namun penggunan pewarna dan bahan tambahan makanan juga harus memperhatikan keamanan nya dan di utamakan menggunakan pewarna alami
3. tekstur dan konsistensi
            Tekstur dan konsistensi makanan  yang di hidangkan di sesuaikan dengan kemampuan fisiologis dan umur. Bentuk makan bayi, lamsia, dan orang yang mengalami gangguan kesehatan khususnya pencernaan akan berbeda dengan orang dewasa pada umumnya.
4. rasa dan aroma
            Aroma masakan yang kuat di kombinasikan dengan makanan yang tidak tajam baunya. Bahan makanan seperti kol harus di kombinasikan dengan bahan makanan segar
5. ukuran dan bentuk potongan
            Adanya kreasi dalam bentuk potongan dapat membangkitkan selera makan
6. suhu
            Pertimbangkan makanan yang harus di hidangkan panas atau dingin dengan menyesuaikan lingkungan, udara atau iklim. Missal, sop atau soto lebih eenak di nikmati dalam cuaca dingin sedangkan es cream dan sop buah lebih enak di sajikan dalam cuaca panas
7. Penyajian menarik
            Bila perlu makanan di sajikan dengan hiasan, selain itu disajikan dalam keadaan yang bersih, terhindar dari pencemaran yang dapat membahayakan kesehatan.









BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
1. Konstipasi merupakan kelambatan perlintasan sisa makanan karena penumpukan feses yang keras dan kering disertai defekasi yang nyeri, distensi abdomen serta massa yang bisa diraba.
2. Tujuan diet konstipasi adalah mencapai dan mempertahankan status gizi yang normal sehingga diharapkan pembuangan feses khususnya pada ibu hamil dengan dapat berjalan dengan lancar dan tidak mempengaruhi keshatan baik ibu maupun janin yang dikandungnya

3.2  Saran
1. Diharapkan bagi petugas kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan bagi ibu hamil mengenai dampak yang dapat terjadi dari komplikasi pada masa kehamilan.
2.  Bagi ibu hamil agar rajin dan memeriksakan kehamilannya secara rutin (setidaknya 1 kali setiap bulannya) dengan harapan dapat mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan
3. Ibu hamil sebaiknya selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi selama kehamilanya agar terhindar dari bahaya komplikasi kehamilan.









DAFTAR PUSTAKA
Sulistyoningsih, hariyana.2011.Gizi untuk kesehatan ibu dan anak. Yogyakarta; graha ilmu






MAKALAH KESEHATAN-KONSEP GENDER DALAM KESPRO WANITA



KONSEP GENDER DALAM KESPRO WANITA


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP GENDER DALAM KESEHATAN REPRODUKSI WANITA
2.1.1 DEFINISI GENDER.
1. Gender merupakan Peran sosial dimana peran laki-laki dan perempuan ditentukan perbedaan fungsi,   perbedaan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat berubah atau diubah sesuai perubahan zaman peran dan kedudukan sesorang yang dikonstrusikan oleh masyarakat. dan budayanya karena seseorang lahir sebagai laki-laki atau perempuan. (WHO 1998).
2. Gender adalah suatu konsep budaya yang berupaya untuk membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional.
3. Gender adalah peran dan kedudukan seseorang yang dikonstruksikan oleh budaya karena seseorang lahir sebagai perempuan atau lahir sebagai laki-laki. 
Contoh :Sudah menjadi pemahaman bahwa laki-laki itu akan menjadi kepala keluarga, pencari nafkah, menjadi orang yang menentukan bagi perempuan. Seseorang yang lahir sebagai perempuan, akan menjadi ibu rumah tangga, sebagai istri, sebagai orang yang dilindungi, orang yang lemah, irasional, dan emosional.


 dikenal ada tiga jenis peran gender sebagai berikut. :
1.      Peran produktif adalah peran yang dilakukan oleh seseorang, menyangkut pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan. Peran ini sering pula disebut dengan peran di sector publik.
2.      Peran reproduktif adalah peran yang dijalankan oleh seseorang untuk kegiatann yang berkaitan dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga, menyetrika, membersihkan rumah, dan lain-lain. Peran reproduktif ini disebut juga peran di sektor domestik.
3.      Peran sosial adalah peran yang dilaksanakan oleh seseorang untuk berpartisipasi di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong-royong dalam menyelesaikan beragam pekerjaan yang menyangkut kepentingan bersama.
   Perbedaan peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara sosial . Gender berhubungan dengan persepsi dan pemikiran serta tindakan yang diharapkan sebagai perempuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat,bukan karena biolologis.

2.1.2 Definisi Seksualitas.
1.      Seksualitas/jenis kelamin adalah karakteristik biologis-anatomis (khususnya system reproduksi dan hormonal) diikuti dengan karakteristik fisiologis tubuh yang menentukan seseorang adalah laki-laki atau perempuan (Depkes RI, 2002:2).
2.      Seksualitas/Jenis Kelamin (seks) adalah perbedaan fisik biologis yang mudah dilihat melalui cirri fisik primer dan secara sekunder yang ada pada kaum laki-laki dan perempuan(Badan Pemberdayaan Masyarakat, 2003).
3.      Seksualitas/Jenis Kelamin adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu 9handayani, 2002 :4).
4.      Seks adalah karakteritik genetic/fisiologis atau biologis seseorang yang menunjukkan apakah dia seorang perempuan atau laki-laki (WHO, 1998)



Menurut Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perbedaan antara Gender dan Jenis Kelamin/seksualitas
Jenis Kelamin
Gender
Tidak dapat berubah, contohnya alat kelamin laki-laki dan perempuan
Dapat berubah, contohnya peran dalam kegiatan sehari-hari, seperti banyak perempuan menjadi juru masak jika dirumah, tetapi jika di restoran juru masak lebih banyak laki-laki.
Tidak dapat dipertukarkan, contohnya jakun pada laki-laki dan payudara pada perempuan
Dapat dipertukarkan
Berlaku sepanjang masa, contohnya status sebagai laki-laki atau perempuan
Tergantung budaya dan kebiasaan, contohnya di jawa pada jaman penjajahan belanda kaum perempuan tidak memperoleh hak pendidikan. Setelah Indo merdeka perempuan mempunyai kebebasan mengikuti pendidikan
Berlaku dimana saja, contohnya di rumah, dikantor dan dimanapun berada, seorang laki-laki/perempuan tetap laki-laki dan perempuan
Tergantung budaya setempat, contohnya pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan terhadap perempuan dikarenakan budaya setempat antara lain diutamakan untuk menjadi perawat, guru TK, pengasuh anak
Merupakan kodrat Tuhan, contohnya laki-laki mempunyai cirri-ciri utama yang berbeda dengan cirri-ciri utama perempuan yaitu jakun.
Bukan merupakan budaya setempat, contohnya pengaturan jumlah a nak dalam satu keluarga
Ciptaan Tuhan, contohnya perempuan bisa haid, hamil, melahirkan dan menyusui sedang laki-laki tidak.
Buatan manusia, contohnya laki-laki dan perempuan berhak menjadi calon ketua RT, RW, dan kepala desa bahkan presiden.

 
 
2.1.3 DISKRIMINASI GENDER
Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender
1.      Marginalisasi (peminggiran).
            merupakan suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan
Peminggiran banyak terjadi dalam bidang ekonomi. Misalnya banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu bagus, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan. Hal ini terjadi karena sangat sedikit perempuan yang mendapatkan peluang pendidikan. Peminggiran dapat terjadi di rumah, tempat kerja, masyarakat, bahkan oleh negara yang bersumber keyakinan, tradisi/kebiasaan, kebijakan pemerintah, maupun asumsi-asumsi ilmu pengetahuan (teknologi).
contoh : guru TK dan pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerjaan rendah sehingga berpengaruh terhadap gaji / upah yang diterima.
2.      Subordinasi (penomorduaan),
            anggapan bahwa perempuan lemah, tidak mampu memimpin, cengeng dan lain sebagainya, mengakibatkan perempuan jadi nomor dua setelah laki-laki.
 contoh : masih sedikit jumlah wanita yang bekerja pada peran dan posisi pengambilan keputusan kepenentu kebijakan dibandingkan dengan laki-laki.
3.      Stereotip (citra buruk)
            pandangan buruk terhadap perempuan. 
contoh : perempuan yang pulang larut malam adalah pelacur, jalang dan berbagai sebutan buruk lainnya.
4.       Violence (kekerasan),
            serangan fisik dan psikis. Perempuan, pihak paling rentan mengalami kekerasan, dimana hal itu terkait dengan marginalisasi, subordinasi maupun stereotip diatas. 
Perkosaan, pelecehan seksual atau perampokan contoh kekerasan paling banyak dialami perempuan.


5.      Beban kerja berlebihan /beban ganda/ double burden
            tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. 
contoh : seorang perempuan selain melayani suami (seks), hamil, melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah. Disamping itu, kadang ia juga ikut mencari nafkah (di rumah), dimana hal tersebut tidak berarti menghilangkan tugas dan tanggung jawab diatas.



2.1.4 Keterkaitan Antara Gender dengan Kesehatan Reproduksi.

               Pendekatan gender dalam kesehatan mengenali bahwa faktor sosial budaya, serta hubungan kekuasaan antar laki-laki dan perempuan, merupakan faktor penting yang berperan dalam mendukung atau mengancam kesehatan seseorang. Hal ini dinyatakan dengan jelas oleh WHO dalam koferensi perempuan sedunia ke IV diBejing pada tahun 1995.
1.      Jenis Kelamin, Gender, dan Kesehatan
         Berbagai penyakit atau gangguan hanya menyerang perempuan, misalnya gangguan yang berkaitan dengan kehamilan dan kanker serviks, sementara itu hanya laki-laki yang terkena kanker prostat.Kapasitas perempuan untuk hamil dan melahirkan menunjukkan bahwa mereka memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi yang berbeda, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Perempuan memerlukan kemampuan untuk mengendalikan fertilitas dan melahirkan dengan selamat, sehingga akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas sepanjang siklus hidupnya sangat menentukan kesejahteraan dirinya. Kombinasi antara faktor jenis kelamin dan peran gender dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya seseorang dapat meningkatkan resiko terhadap terjadinya beberapa penyakit, sementara di sisi lain memberikan perlindungan terhadap penyakit lainnya. Perbedaan yang timbul dapat berupa keadaan sebagai berikut :
1.      Perjalanan penyakit pada laki-laki dan perempuan.
2.      Sikap laki-laki dan perempuan dalam menghadapi suatu penyakit.
3.      Sikap masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan yang sakit.
4.      Sikap laki-laki dan perempuan terhadap pengobatan dan akses pelayanan kesehatan.
5.      Sikap petugas kesehatan dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan.
2.      Pengaruh Gender Terhadap Kesehatan Reproduksi Perempuan
         Menikah pada usia muda bagi perempuan berdampak negatif terhadap kesehatannya. Namun menikah di usia muda kebanyakan bukanlah keputusan mereka, melainkan karena ketidak berdayaannya (isu gender). Di beberapa tempat di Indonesia, kawin muda dianggap sebagai takdir yang tak bisa ditolak. Perempuan tidak berdaya untuk memutuskan kawin dan dengan siapa mereka akan menikah. Keputusan pada umumnya ada di tangan laki-laki; ayah ataupun keluarga laki-laki lainnya.

2.1.5                           Issue gender dalam elemen kesehatan reproduksi essensial.
1.      Kesehatan ibu da bayi (safe motherhood)
a.       Ketidak mampuan perempuan dalam mengambil keputusan kaitanya dengan kesehatan dirinya misalnya menentukan kapan hamil dan dimana akan melahirkan hal tersebut berhubungan dengan kedudukan perempuan yang lemah dikeluarga dan masyarakat.
b.      Sikap dan perilaku keluarga yang cenderung mengutamakan laki-laki, misal: 1) dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari yang menempatkan bapak/anak laki-laki pada posisi yang diutamakan dari pada anak dan ibu perempuan hal tersebut sangat merugikan kesehatan perempuan terutama bila sedang hamil  2) tuntutan untuk tetap bekerja keras dengan ibu hamil seperti pada saat kondisi ibu tersebut tidak hamil. 3). Pantangan-pantangan bagi perempuan untuk melakukan kegiatan/ makanan-makanan tertentu yang cukup bergizi, seperti ikan dan telur.
2.      Keluarga Berencana (KB)
a.       Perempuan tidak mempunyai kekuatan untuk memutuskan metoda kontrasepsi yang diinginkan antara lain karena ketergantungan kepada keputusan suami, info yang kurang lengkap,dll
b.      Pengambilan keputusan: partisipasi laki-laki dalam program KB sangat kecil dan kurang, namun kontrol terhadap perempuan dalam hal memutuskan untuk ber-KB sangatlah dominan.
c.       Ada anggapan bahwa KB adalah urusan perempuan karena kodrat perempuan untuk hamil dan melahirkan.
3.      Kesehatan reproduksi remaja
a.       Ketidak adilan dalam membagi tanggung jawab, misal: pada pergaulan terlalu bebas, remaja putri selalu menjadi korban dan menanggung segala akibatnya (seperti: kehamilan tidak diinginkan, putus sekolah). Ada kecenderungan untuk menyalahkan pihak perempuan, sedangkan remaja putra seolah-olah terbebas dari segala permasalahan, walaupun ikut andil dalam menciptakan permasalahanya tersebut.
b.      Dalam tindakan aborsi ilegal, yang diancam oleh sanksi dan hukum adalah perempuan yang menginginkan tindakan aborsi tersebut, sedangkan laki-laki yang menyebabkan kehamilan tidak tersentuh oleh hukum.